About

Bapakku Seorang Waria

Kamis, Januari 26, 2012 hanhan 0 Comments

Sejak berumur empat tahun aku tidak pernah melihat bapakku lagi. Entah apa salahku dan ibuku sehingga bapak begitu tega meninggalkan kami. Jika limabelas tahun kemudian aku ingin menemui bapakku, apakah salah? Aku hanya ingin tahu seperti apa rupa bapakku sekarang karena ingatan kecilku kian pudar. Aku juga ingin tahu kenapa dia menelantarkanku. Aku butuh jawaban, satu saja agar aku punya alasan pantaskah aku mempertahankan bayi dalam perutku yang sudah berumur delapan minggu ini, bayi yang masih kusembunyikan keberadaannnya dari ibuku juga ayah kandungnya sendiri.
Mungkin jika dibahasakan dalam sebuah catatan harian kurang lebih seperti itulah yang ada dalam pikiran Cahaya. Gadis yang selama limabelas tahun tidak pernah bertemu bapaknya. Gadis yang kemudian nekad pergi ke Jakarta demi menyulam ingatan kecilnya tentang seorang sosok, sosok bapak kandungnya. Sekali saja, katanya pada si ibu yang cemas dengan kepergiannya yang tanpa ijin itu. Rasa ingin tahu yang sudah memuncak memantapkan kakinya menginjak ibukota meski kemudian dia harus menerima kenyataan bahwa bapak yang dirindukannya ternyata seorang waria.
Cerita di atas adalah penggalan cerita dari film Lovely Man karya Teddy Soeriatmadja yang diperankan oleh Raihanun sebagai Cahaya dan Donny Damara sebagai bapak. Film dengan durasi sekitar 90 menit ini kemarin diputar di Taman Budaya Yogyakarta sebagai salah satu rangkaian dari acara 6th Jogja-Netpac Asian Film Festival. Festival yang dijadwalkan berlangsung mulai tanggal 13-17 Desember 2011 ini mengambil tiga tempat yaitu Taman Budaya Yogyakarta, Lembaga Indonesia Perancis dan Empire XXI.
Tidak hanya memutar film di festival ini juga diadakan seminar dan diskusi forum komunitas. Tema yang diusung kali ini adalah multitude. Kalau dilihat awal pembukaan festival ini bisa dibilang mendapat sambutan yang cukup hangat. Tiket sudah fully booked untuk Opening Ceremony dimana ada pemutaran film asal Iran, The Green Wave. Film The Raid (Indonesia) yang sedianya akan diputar tanggal 16 Desember di Empire XXI dalam dua sesi yaitu pada pukul 16.00-18.00 dan pukul 19.00-21.00 sudah sold out tiketnya.
Kembali pada sosok Cahaya di film Lovely Man, yang dengan terpaksa harus menerima syarat dari bapaknya yang memintanya berjanji untuk tidak lagi ikut campur dengan kehidupannya setelah malam itu, konflik film ini kembali dibangun. Satu malam untuk selamanya. Seorang anak yang selama limabelas tahun hanya bisa merindukan dan mengingat-ingat sosok bapaknya lewat memori kecilnya hanya diberi satu malam saja untuk bisa bersama orang yang membuatnya ada di dunia.
Kisah yang dialami Cahaya mungkin tidak begitu lazim. Seorang waria yang siangnya bekerja sebagai kuli bangunan bertemu dengan seorang perempuan muda, dekat dan kemudian jatuh cinta. Cinta yang ternyata tidak bertahan lama karena bapak Cahaya, yang bernama asli Saiful, tidak bisa memungkiri jati dirinya sebagai waria. Sulit mempertahankan cinta seorang perempuan dengan laki-laki yang setiap malamnya memilih menggunakan rok juga high heel.
Tapi hidup bukan tentang kelaziman atau kalau menilik kata-kata Saiful, hidup bukan tentang benar atau salah tapi bagaimana kita menjalani karena itulah jalan hidup. Salahkah Saiful yang memilih menjadi waria dan meninggalkan anak istrinya? Salahkan ibu Cahaya yang selalu berusaha menyembunyikan identitas asli bapaknya? Salahkah Cahaya jika kemudian sempat berpikir menggugurkan bayi dalam kandungannya? Salahkah Cahaya jika dia lahir di dunia dari sperma seorang laki-laki yang juga wanita?
Ini tentang pilihan. Pilihan yang sulit harus dan telah diambil. Saiful yang sebelumnya dikejar-kejar bos geng karena telah mencuri uangnya sebesar tiga puluh juta demi bisa melakukan operasi kelamin memilih memberikan uang itu kepada Cahaya. Bukan sebagai ganti rugi biaya hidup, kasih sayang atau rasa bersalahnya selama limabelas tahun meninggalkan Cahaya, selama kurun waktu itu Saiful tidak pernah telat mengirimkan uang untuk anaknya, karena Saiful sadar betul penderitaan yang dialami anaknya tidak akan terganti dengan uang berapapun. Pun tidak kalah menyakitkannya bagi Cahaya untuk mengiyakan permintaan bapaknya agar setelah hari itu tidak lagi mencarinya. Hubungan mereka putus saat itu juga ketika Saiful mengantarkan Cahaya di stasiun kereta api untuk pulang.
Bapakku seorang waria, apakah itu pilihan Cahaya? Bukan. Itu adalah pilihan bapaknya, pilihan ibunya juga yang telah menikahi seorang waria. Pilihan Cahaya adalah mau menerima kenyataan bahwa bapaknya seorang waria atau menyangkalnya. Life is a choice, hidup adalah pilihan, bahkan ketika kita memutuskan untuk tidak memilih sesungguhnya kita sudah menjatuhkan pilihan kita.


0 komentar: